Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama — Hisab Awal Bulan Hijriyah berbasis data Algoritma Ephemeris. Hisab hakiki tahqiqi tadqiqi ‘ashri untuk menuntun rukyatul hilal; keputusan akhir tetap pada rukyat dan istikmal.
Database 1448 H – 1500 H.

Data Hilal saat Maghrib Markaz

Hisab — Data & Kesimpulan Ephemeris Hisab-Rukyat

Visualisasi Hilal saat Maghrib Markaz

Istihalah — di bawah ufuk / < IRNU Imkan (IRNU) — h ≥ 3° · e ≥ 6,4° Qath’iy (QRNU) — e ≥ 9,9°
Tampilan langit barat pada saat matahari terbenam (maghrib) di markaz terpilih, pada hari ke-29 (tanggal ijtimak, Ijtima' 0 Hari) atau ke-30 (Ijtima' +1 Hari). Piringan bulan diperbesar untuk kejelasan; ukuran aslinya ±0,5°.

Prediksi Awal Bulan

Metode & Kriteria LFNU Muktamar ke-34
Algoritma Ephemeris Hisab-Rukyat (EHR)
Posisi Matahari dari seri VSOP87 (Meeus) + nutasi/aberasi. Posisi Bulan dari ELP-2000/82 (truncated) + nutasi, paralaks horizontal, dan refraksi. Maghrib: tinggi geometrik Matahari −0,8333°. Tabel EHR menampilkan bujur ekliptika, deklinasi, AR, semidiameter, EoT, FIB, tinggi geosentris/toposentris, piringan atas/bawah, elongasi geo/topo, umur, mukuts, iluminasi, dan nurul hilal — selaras format EHR Kemenag.
Tiga zona visibilitas — Istihalah, Imkan, Qath’iy
Berdasarkan keputusan Muktamar ke-34 NU (Lampung, 2021) dan konsensus LF PBNU (IRNU/QRNU):
  • Istihalah Rukyat — hilal di bawah ufuk (terbenam lebih dulu dari Matahari) atau belum memenuhi IRNU. Bila sekurang-kurangnya lima metode falak qath’iy menunjukkan hilal di bawah ufuk pada tanggal 29, rukyat tidak lagi wajib diselenggarakan (bulan digenapkan).
  • Imkan Rukyat (IRNU) — batas bawah: tinggi hilal mar’i ≥ 3° dan elongasi haqiqi (geosentris) ≥ 6,4° (Neo-MABIMS; SK LF-PBNU 001/SK/LF–PBNU/III/2022). Berfungsi ganda: ambang penerimaan laporan rukyat dan pembentukan Almanak NU. Hisab hanya menuntun; itsbat tetap dari rukyat atau istikmal.
  • Qath’iy Rukyat (QRNU) — batas atas: elongasi haqiqi ≥ 9,9°. Zona di mana hilal sudah sangat tinggi sehingga secara falak qath’iy wajib terlihat. Bila rukyat maksimal gagal melihat hilal, istikmal dapat dinafikan (nafiul istikmal) jika ikmal akan membuat bulan berikutnya hanya 28 hari (sabda “asy-syahru hakadza wa hakadza”).
Sumber: Ma’rufin Sudibyo, NU Online; Rakernas LF PBNU 1444 H (QRNU 9,9°).
Ijtima’ 0 Hari dan Ijtima’ +1 Hari
Ijtima’ 0 Hari = rukyat pada hari ijtimak (tanggal 29). Ijtima’ +1 Hari = rukyat sehari setelah ijtimak (ke-30). Bila pada maghrib markaz memenuhi IRNU, prediksi 1 bulan baru esok hari; bila tidak, istikmal.
);